Warga Warung Menteng Cijeruk Keluhkan Terputusnya Jalan Kp Anyar Cibadak

198

berantasonline.com Bogor

Dibangunnya Jembatan dan TPT di Kampung Anyar Cibadak RT 01 RW 03 Desa Warung Menteng, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, masih menyisakan masalah.

Pasalnya, jalan kampung diatas TPT tersebut masih dibiarkan terputus setelah longsor tergerus hujan beberapa waktu lalu.

Sampai berita ini ditulis, belum diperoleh keterangan penyebab dibiarkannya jalan tersebut putus, meski mengancam keselamatan pejalan kaki dan pengendara motor yang nekat menuju jembatan. Pagar bambu nampak dipasang oleh warga sebagai tanda bahaya longsor.

TPK Pembangunan Jembatan dan TPT, Dedi saat dikonfirmasi Wartawan Berantas seputar jalan putus tersebut, enggan menjelaskan kendala apa yang dihadapi, “Yang jelas kami hanya mengerjakan sesuai perintah Kades”, ujarnya.

Kades Warung Menteng, Maman telah berkali kali dihubungi untuk diminta penjelasan, namun selalu tidak direspon, dan selalu menghindar untuk ditemui.

Salah seorang warga setempat Muhamad Sugandi alias Ugan meminta pihak desa untuk segera memperbaiki jalan yang terputus karena dikhawatirkan bakal menimbulkan korban jiwa. “Sekarang warga sulit lewat sana karena khawatir tebingnya longsor”, ujarnya, Minggu (2/5).

Hal senada diungkapkan Rahmat, Ketua 01/03 Kp Anyar Cibadak, saat dijumpai Wartawan Berantas dirumahnya. “Memang seperti itu kondisinya, warga pada mengeluh ke saya, tapi sudah saya usulkan ke kepala desa, dan kemarin sudah dimusyawarahkan”, kata RT Rahmat.

Sementara itu, kegiatan pembangunan Jembatan dan TPT Kp Anyar Cibadak dengan Volume 20 meter X 2,5 meter (Jembatan) dan TPT (P 25 mtr X L 0,5 mtr X T 8 mtr), senilai Rp 95.881.000 yang bersumber dari Dana Desa (DD) tahap III tahun 2019, telah rampung dikerjakan.

Nara sumber berantasonline.com menyebutkan, proyek tersebut bakal dilaporkan ke aparat hukum dan inspektorat Pemkab Bogor, karena dikerjakan oleh pihak ketiga atau diborongkan, sehingga tidak melibatkan warga sekitar sebagaimana ketentuan yang berlaku.

“Kalau dilihat dari hasilnya, proyek itu paling cuma habis Rp 50 jutaan aja, karena memang batunya sebagian beli dan sebagian mulung dari kali”, ujarnya.

(Helmi/red.3)