Warga Cibinong Minta Kuota Perjalanan KA Nambo Line Ditambah

399

berantasonline.com (BOGOR) – Jalur kereta api Nambo Line sebenarnya sudah akrab di sebagian masyarakat Kabupaten Bogor bagian tengah dan timur. Jalur itu, sejak awal mula berdirinya, penuh dengan sejarah dan lika-liku. Nambo line pada era tahun 2000-an sempat dilintasi KRD Nambo dengan kereta bertenaga disel untuk relasi Manggarai – Nambo. Namun, karena setali tiga uang memaksa pengoperasian KRD Nambo saat itu tutup. Penumpang yang padat ditambah banyaknya penumpang-penumpang ‘bodong’ tanpa tiket diduga menjadi sebab utama relasi Nambo pada saat itu ditutup.

Selama masa-masa mati suri inilah, beberapa pabrik semen yang berada di wilayah Gunung Putri dan Kelapa Nunggal memanfaatkan moda transportasi kereta api untuk proses distribusi. Tidak heran jika kemudian masyarakat Gunung Putri, Cibinong, dan sekitarnya, banyak melihat lokomotif CC 206 hilir-mudik mengangkut logistik semen di sepanjang jalur Nambo Line.

Seiring dengan pengembangan proyek kereta pelaju atau Commuter Line di tubuh perekeretaapian Divisi I Regional Jadebotabek, rute ini pun kembali direaktivasi dengan sistem elektrifikasi melalui menambahkan kabel listrik aliran atas atau LAA. Puncaknya, pada 1 Apri 2015, PT KAI Commuter Jadebotabek resmi mengoprasikan layanan kereta api penumpang dengan kereta listrik. Menurut sumber Kementrian Perhubungan, jalur Nambo Line yang menghubungkan stasiun Citayam hingga Nambo memiliki panjang keseluruhan 13 meter.

Kepala Stasiun Cibinong Budi Santoso saat ditemui Berita Utama menegaskan, reaktivasi Nambo Line mendapatkan respon yang sangat positif dari masyarakat Kabupaten Bogor. Menurutnya, okupansi penumpang di rute ini selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Sejak diaktifkan Commuter Line, jumlah penumpang dalam satu hari bisa mencapai 300-400 penumpang. Perjalanan kereta api waktu itu masih sangat terbatas, hanya lima perjalanan saja dalam satu hari.

“Untuk sekarang-sekarang ini di hari kerja bisa mencapai 1.600 penumpang. Kalau hari libur bisa sampai 2000 penumpang. Perjalanan kereta api pun akhirnya ditambah dari yang tadinya hanya 5 perjalanan, sekarang sudah 10 perjalanan,” kata Budi di ruang kerjanya.

Penumpang-penumpang yang masuk dan keluar melalui Stasiun Cibinong, lanjutnya, untuk hari kerja lebih didominasi oleh masyarakat yang rata-rata bekerja di wilayah Depok dan Jakarta. Sementara akhir pekan, tujuan favorit warga Cibinong dan sekitarnya lebih banyak ke arah Tanah Abang dan Jakarta Kota. Ia menambahkan, Tanah Abang sudah tak asing dikenal masyarakat sebagai pusat perbelanjaan aneka busana. Sementara dari stasiun Jakarta Kota banyak destinasi wisata menarik seperti Kota Tua maupun pusat perbelanjaan elektronik seperti Glodok.

Sebetulnya, rute Nambo Line yang dimulai dari stasiun Citayam hingga Nambo memiliki empat stasiun pemberhentian. Yaitu Stasiun Citayam, Pondok Rajeg, Cibinong, Gunung Putri, dan Nambo. Untuk saat ini, stasiun yang beroperasi hanya Citayam, Cibinong, dan Nambo. Sementara Pondok Rajeg dan Gunung Putri masih belum diaktifkan. Budi tak menampik jika dua stasiun itu memiliki potensi penumpang yang tinggi. Pasalnya, banyak warga Cibinong, Gunung Putri, yang memilih stasiun Cibinong sebagai stasiun tujuan.

“Kalau secara infrastruktur bangunan stasiun saya rasa sudah ada. Tinggal dikembangkan saja. Mesin untuk Get in dan out memang belum terpasang. Nah, untuk kebijakan kapan diaktifkan bisa ditanyakan ke Dirjen atau PT KCI. Kita kan hanya pelaksana tugas di lapangan saja,” imbuhnya.

Sementara Ida Faroni (48) warga Puri Nirwana II Cibinong yang setiap hampir setiap hari melintasi Nambo Line berharap agar perjalanan kereta Nambo Line bisa ditambah. Apa yang dituturkan Ida mungkin beralasan. Setiap pagi, ia kerap merasakan sesak lantaran penumpang yang sangat padat. Meski pun perjalanan kereta api sudah ditambah, menurutnya itu belum cukup untuk mengurai kepadatan penumpang.

“Tinggal ditambah perjalanan saja. Semakin ke sini jumlah penumpangnya semakin bertambah. Terutama di jam-jam pergi dan pulang kerja, itu ramai sekali yang naik kereta. Kalau siang agak sepi. Tapi kalau secara pelayann sih saya rasa sudah bagus. Stasiun dan toilet juga sudah bersih. Ya itu tadi, tinggal ditambah saja perjalanannya. Mirip di stasiun Bogor,” ungkap Ida, sapaannya.

Di tempat berbeda, Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno mengakui, jalur tersebut sangat vital untuk dikembangkan di Jadebotabek. Hanya saja, pemerintah punya langkah dan kajian tersendiri untuk menjalankan sebuah proyek.

“Kalau dirasa butuh, ya warga bisa mengajukan usulan tersebut ke Kemenhub yang dalam hal ini pemerintah. Sebab bisa jadi mereka belum tahu ada kebutuhan di jalur itu. Jadi warga bisa minta tambahan kereta,” pungkasnya.

(berita utama/Rh)