Wabup John Palandung Minta Warga Sitaro Ikut Perangi DBD

38
Wabup Sitaro John Palandung mengunjungi pasien DBD di RS Lapangan Sawang Siau.

berantasonline.com (Sulut) – Walaupun Kabupaten Kepulauan Sitaro merupakan Kabupaten dengan jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) yang paling sedikit dari Kabupaten/kota di Sulawesi Utara, namun masyarakat tetap diminta waspada.

Menindaklanjuti hal tersebut, Wakil Bupati Drs. John Palandung MSi, Selasa (22/1) mengunjungi 3 pasien DBD di Rumah Sakit Lapangan Sawang Siau, dalam kunjungan tersebut Wabup didampingi Kepala Dinas Kesehatan, dr Ria Papalapu.

Dalam kunjungan tersebut Wabup menjelaskan, sosialisasi di sekolah-sekolah dan ke masyarakat umum terus dilakukan untuk mencegah meningkatnya kasus DBD dan penyakit menular lainnya di Kabupaten Kepulauan Sitaro.

“Pengamatan terhadap penyakit-penyakit menular termasuk DBD dilakukan setiap hari melalui progran surveilans. Kampanye aktif dilakukan ketika ada peningkatan kasus seperti sekarang. Informasi dan layanan DBD silahkan menghubungi Puskesmas setempat,” ujar Palandung.

Dikatakannya, masyarakat juga harus turut serta menjaga lingkungan tempat tinggal masing-masing, masyarakat harus melakukan tindakan pencegahan yaitu 3 M, Menguras tempat-tempat penampungan air 1x seminggu, Menutup rapat-rapat tempat penampungan air dan Menimbun barang-barang bekas yang bisa menampung air hujan.

“Ditambah juga dengan menaburkan bubuk abate di tempat penampungan air, tentukan setiap rumah ada 1 orang pemantau jentik,” terang Wabup.

Dari data yang ada saat ini, DBD sudah memakan satu korban jiwa di Kampung Kisihang Pulau Tagulandang

Saat dikonfirmasi, Kadis Kesehatan Ria M Papalapu membenarkan hal tersebut. Ia menjelaskan memang sebelum diberlakukannya DBD sebagai KLB, Pemkab telah melakukan berbagai sosialisasi dan tindakan pencegahan wadah.

“Namun untuk satu korban tersebut, kemungkinan terlambat diidentifikasi. Sebab banyak juga masyarakat terutama orang tua lalai dalam mengawasi anak. Seharusnya saat anak mengalami panas, segera dibawa ke puskesmas terdekat untuk diidentifikasi. Agar kita juga tahu apakah penyakit biasa atau sudah gejala DBD. Karena kebanyakan orang tua, membawa anak untuk perawatan medis saat sakitnya sudah parah, sehingga dapat dikatakan terlambat,” jelasnya.

Ia pun berharap, agar masyarakat tidak lalai. “Pastinya lakukan pencegahan sejak dini dengan menjaga kebersihan lingkungan sekitar kita dengan melakukan 3M Plus. serta orang tua, wajib selalu mengontrol kesehatan anak,” jelasnya.

(Tampubolon)