Telan Biaya Rp 130 Miliar, Pembangunan Masjid Agung Kebon Kembang Berjarak 200 Meter dari Istana Bogor Terbengkalai

296

Bogor, BERANTAS

Setelah dihukumnya Panitia Pembangunan Divisi Lelang dan Manager Pembangunan Masjid Raya Palembang oleh Majelis Hakim Tipikor, karena diduga merugikan keuangan negara Rp 64 Miliar, maka tiba saatnya Komisi Pemberantasan Korupsi diharapkan membidik mangkraknya pembangunan Masjid Agung Kota Bogor yang diduga telah menelan biaya Rp 130 Miliar, tetapi sekitar 5 tahun mangkrak tidak jelas kapan selesainya.

“Masjid Agung Kebon Kembang di Jl Dewi Sartika Kota Bogor itu lokasinya berjarak sekitar 45 Km dari Gedung Merah Putih KPK, tapi anehnya seolah terabaikan, sementara Mesjid Raya Palembang yang berjarak satu jam penerbangan dari Jakarta kok cepat ditangani”, ujar tokoh LSM Kota Bogor yang telah lama berteriak teriak tetapi tidak didengar oleh yang berwenang.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum Bogor Irawansyah SH,MH mendesak Walikota Bogor untuk memberi sangsi aparat bawahannya yang bertanggungjawab atas mangkraknya pembangunan Masjid Agung Bogor yang amburadul selama bertahun tahun.

Ketua Umum LSM Pengembangan Aspirasi Rakyat (PAR) Khotman Idris malahan mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi untuk mengusut mangkraknya pembangunan Masjid Agung tersebut.

Kepada Redaksi Berantas, Khotman Idris, Sabtu (20/11-2021) mengatakan sudah selayaknya KPK atau Satgas Intel Kejagung mengambil alih pengusutan kasus Mesjid Agung Bogor.

Letak bangunan Masjid Agung Bogor hanya 200 meter dari Istana Bogor tempat bermukimnya Presiden Joko Widodo, tetapi terbengkalai diduga karena salah urus.

“Siapapun yang bertanggungjawab atas terbengkalainya pembangunan Masjid Agung Kota Bogor harus diusut dan ditangkap”, ujar Ketua Umum LSM PAR tersebut dengan nada geram.

Sementara itu kalangan DPRD Kota Bogor nampaknya masih diam seribu bahasa, “Biasanya kalau menemukan kejanggalan pembangunan proyek mereka cuap cuap, tetapi urusan Mesjid Agung Kota Bogor mereka diam”, kata Khotman menyesalkan.

(Dod/red.01)