Saipul Jamil Boleh Tampil di Layar Kaca Khusus Program Edukasi. Tompi: KPI Loyo Kurang Sensitif

3739

Jakarta, BERANTAS

Belum lama ini Ketua Komisi PENYIARAN Indonesia, Agung Suprio menjelaskan dan memberikan izin kepada Saipul Jamil mantan narapidana kasus kekerasan seksual pada anak di bawah umur untuk kembali ke layar kaca.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua KPI, Agung Suprio saat berbincang dengan Deddy Corbuzier belum lama ini.

Dalam video yang diunggah pada channel Youtube Deddy Corbuzier, pihak KPI memberikan persyaratan kepada Saipul Jamil agar bisa kembali ke dunia pertelevisian.

“Kita buat surat, kita mengecam glorifikasinya (Saipul Jamil), enggak boleh. Yang kedua dia bisa tampil untuk kepentingan edukasi.

“Misal, dia hadir sebagai bahaya seorang predator. Kan bisa juga dia ditampilkan seperti itu,” tutur Agung Suprio menjelaskan.

Jika mengikuti persyaratan tersebut, maka KPI akan memberikan lampu hijau bagi sang artis agar bisa kembali lagi ke layar kaca.

Tetapi, bukan lagi untuk konteks menghibur, melainkan diminta untuk berbicara soal kasus predator seksual yang marak di Indonesia.

“Kalau untuk hiburan. Di surat edaran yang kami kirim ke dia. Itu belum bisa,” ujarnya lagi.

Meski sudah dibuat demikian, ia mengaku masih banyak pegiat hak asasi manusia yang mengkritik kebijakan dari pihak KPI tersebut.

“Tapi Ini kan lawannya adalah etika. Kita singkirkan HAM sementara, toh dia boleh tampil dalam konteks edukasi.

“Ini kita enggak melarang, tapi membatasi harus dipahami. Jadi enggak ada pelarangan. Enggak boleh ke mana-mana. Ini membatasi,” tuturnya lagi.

Sontak saja keputusan dari ketua KPI tersebut menuai banyak pro dan juga kontra dari masyarakat Indonesia, salah satunya dari dokter sekaligus musisi, Tompi.

Tompi merasa kecewa dengan sikap dari KPI yang dinilai loyo dan juga kurang sensitif terhadap isu genting seperti yang sedang terjadi.

Apalagi mengingat Saipul Jamil yang merupakan pelaku pelecehan seksual yang kini justru ditunjuk sebagai duta yang akan membeberkan tentang edukasi dari bahayanya pelecehan dan kekekarasan seksual kepada anak di bawah umur.

Tompi juga merasa heran mengapa para petinggi di KPI yang pada dasarnya paham dengan efek penyiaran justru menertapkan ide konyol seperti yang telah diungkapkan kepada publik beberapa waktu lalu.

“Edukasi bahaya pelecehan seks di bawah umur oleh pelakunya. Ini ide kira-kira ilhamnya dari mana?,” kata Tompi dalam cuitannya di akun Twitter @dr_tompi.

Alih-alih membicarakan soal HAM yang berhak dimiliki oleh Saipul Jamil, banyak netizen yang justru risih jika sang pedangdut pada akhirnya nanti benar-benar kembali ke layar kaca Indonesia.

Sebelumnya ramai perbincangan tentang Saipul Jamil yang tersandung kasus pencabulan pada Februari 2016 yang lalu.

Dalam kasus tersebut ia dinyatakan bersalah dan divonis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara selama tiga tahun, naik banding hukuman jadi bertambah lima tahun.

Tak lama kemudian Saipul Jamil kembali harus berurusan kali ini dengan KPK, keluarganya bersama dengan sang pengacara ditangkap oleh Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK

Tidak lama setelah ditangkap atas kasus pencabulan, Saipul Jamil harus berurusan dengan KPK. Keluarganya bersama dengan sang pengacara tertangkap oleh OTT KPK, diduga telah melakukan suap kepada petugas Pengadilan Negeri Jakarta Utara agar dibantu mendapatkan putusan yang ringan atas kasus pencabulannya.

Dalam kasus suap, Saipul jamil divonis tiga tahun penjara dan juga denda sebesar Rp 100 juta, ditambah dengan vonis hukuman kasus pencabulan.

Akan tetapi, Pengadilan Tinggi Jakarta telah menerima banding jaksa. Sehingga putusan Saipul Jamil berubah, ia akhirnya menerima vonis lima tahun penjara kasus pencaulan ditambah kasus suap dengan kurungan penjara tiga tahun dan denda sebesar Rp 100 juta.

(Dikutip dari Hello.id/Red.10-Hud)