Polri Temukan Sejumlah Barang Bukti Berupa Baju dan KTA FPI

351

berantasonline.com JAKARTA

Terkait aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral, Sulawesi Selatan, Minggu (28/03/2021)

Polri melakukan penggerebekan di dua tempat terpisah, yakni di Condet dan Bekasi.

Penggeledahan di rumah terduga teroris di Jalan Raya Condet RT 005/003 Kelurahan Balekambang, Kramatjati, Jakarta Timur, Senin (29/3/2021).

Dalam penggerebekan tersebut pihak kepolisian menangkap seorang pria dan satu perempuan dari rumah yang dijadikan sebagai show room mobil.

Polri mendapatkan sejumlah barang bukti dalam penangkapan empat terduga teroris di Bekasi, Jawa Barat dan Condet, Jakarta Timur, Senin (29/3/2021).

Di Condet pihak kepolisian menangkap seorang pria dan satu wanita dari rumah yang juga dijadikan sebagai show room mobil itu.

Tak hanya itu, pihak kepolisian menyita sejumlah barang bukti termasuk atribut Front Pembela Islam (FPI).

Salah satu atribut FPI yang ditemukan di Condet adalah kartu keanggotaan, tertera pula nama pemiliknya.
Serta barang bukti yang didapatkan berupa baju bertuliskan FPI berwarna hijau dan putih.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran mengatakan, sejumlah barang bukti yang didapat menjadi temuan awal untuk dilakukan penyelidikan lebih dalam.

“Iya termasuk itu (baju FPI). Jika ada keterkaitan itu kan sebagai temuan awal bahkan didalami oleh Densus 88,” kata Fadil saat jumpa pers di Polda Metro Jaya, Senin.

Namun, Fadil tak menjelaskan secara rinci berkait barang bukti baju itu. Dia akan mengungkapkan perkembangan hasil penyelidikan.

“Perkembangannya Pak Yusri. Tentunya Divhumas dan Densus 88 akan memberikan penjelasan terkait dengan perkembangan hasil penyilidikan,” katanya.

Fadil mengungkapkan, selain baju bertulis FPI, barang bukti lain juga didapat dari terduga teroris berinisial ZA (37), BS (43), AJ (46) dan HH (56).

Dari penangkapan ZA, barang bukti yang disita berupa parang, ponsel, dompet, kartu ATM, kartu identitas dan uang tunai Rp 3.056.000.

Sedangkan penangkapan AJ dan HH, diamankan barang bukti berupa ponsel dan identitas diri masing-masing.

“Dari penggeledahan ditemukan 5 bom aktif yang sudah terkait dalam bentuk kaleng dengan sumbu yang terbuat dari triaceton triperoxide (TATP). Ini adalah sebuah senyawa kimia yang mudah meledak dan tergolong sangat sensitif,” kata Fadil.

Direktur Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya mengatakan, kasus di Gereja Katedral Makassar itu bermotif balas dendam.

Pelakunya ini teman dari yang dua puluhan orang yang ditangkap bulan Januari lalu, mereka satu group.

Harits menilai perlu ada evaluasi penanganan terorisme oleh Pemerintah. Menurut dia, terutama dalam sepuluh tahun terakhir, aksi terorisme di Indonesia bermotif dendam.

“Kenapa bisa melahirkan balas dendam? Maka ini butuh kesadaran pihak yang punya kewenangan dalam hal kontra terorisme untuk mengevaluasi langkah-langkah law enforcement (penegakan hukum) yang selama ini dilakukan,” kata dia.

Pola seperti itu, menurutnya melahirkan dendam dan berimplikasi pada berulangnya aksi teror.

“Cara-cara law enforcement seperti ini melahirkan kemarahan dan dendam. Ini siklus kekerasan, yang enggak ada ujungnya kalau pola-pola ini kemudian tidak dievaluasi,” ucap dia.

(Achmad Hudori)