Polda Jabar Meminta Media Tak Memviralkan Kasus Dugaan Vaksin Palsu

7265

Jabar, BERANTAS

Akibat viralnya sebuah video di media sosial, seorang wanita yang diduga disuntik jarum kosong oleh tenaga kesehatan saat menjalani vaksinasi di puskesmas Wadas masyarakat Karawang mulai khawatir untuk di vaksin.

Untuk kepentingan itu Kapolres Karawang menerjunkan petugas ke lokasi yaitu Puskesmas Wadas dan memeriksa tiga orang tenaga kesehatan dan tiga orang penerima vaksin yang disebut-sebut di media sosial, untuk dimintai keterangan.

Kapolres Karawang AKBP Rama Samtama Putra mengatakan, pihaknya masih melakukan pendalaman terkait kasus yang menghebohkan tersebut. Sejumlah orang yang mengetahui kasus tersebut dimintai keterangan.

Untuk mendukung penyidikan polisi menggandeng para ahli vaksin. Hal ini untuk membuktikan kebenaran adanya jarum suntik kosong saat vaksin yang dilakukan nakes. “Kami juga mendalami SOP saat vaksin itu seperti apa. Pokoknya semua kita dalami,” terang Kapolres.

Menurut AKBP Rama Samtama, belum bisa menyimpulkan hasil pemeriksaan karena belum selesai dan masih berlanjut mengumpulkan bukti-bukti. Penyidik kepolisian fokus mengungkap apakah kasus tersebut benar atau hoaks.

“Kami sudah menginvetarisasi bukti-bukti siapa yang menyebarkan dan yang mengunggahkan. Namun terlebih dahulu kita buktikan pemberian vaksin itu disuntik atau tidak,” ujar AKBP Rama Samtama.

Untuk tidak membuat resah masyarakat, Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Erdi Adrimulan Chaniago meminta kepada awak media untuk tidak memviralkan kasus dugaan vaksin palsu yang terjadi di Puskesmas Wadas, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang.

“Tidak perlu lah memviralkan kasus yang belum bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya karena ini membuat resah masyarakat,” tutur Kabid Humas Polda Jabar.

Dan Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Jabar Daud Achmad juga menghimbau kepada masyarakat sebaiknya melapor ke pihak yang berwenang jika menemukan kejanggalan terkait vaksinasi. Namun laporan harus disertai barang bukti agar tak menjadi fitnah.

(Release/Achmad Hudori)