Peserta Didik Dituntut Kreatif Dalam Menggali Potensi Diri

19

berantasonline.com Bogor

Kualitas Pendidikan merupakan hal penting dalam kemajuan suatu bangsa.

Indonesia dimasa pandemi covid 19 seperti sekarang ini, menghadapi pula krisis pendidikan.

Menurut Survei Political And Economic Risk Consultan (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia.

Sementara itu, Ketua Umum BMH, Irianto mengatakan, posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yg dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yg rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia.

“Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain adalah masalah efektivitas, efisiensi, dan standarisasi pengajaran, ditambah dengan Covid’19” , ujarnya.

Selain kurang kreatif nya para pendidik dalam membimbing siswa, kurikulum menjadi faktor yg membuat pendidikan semakin mundur.

Kurikulum hanya didasarkan pada pengetahuan pemerintah tanpa memperhatikan kebutuhan masyarakat. Para pendidik hanya memaksakan anak untuk mengusai seluruh materi yg dikurikulumkan, tidak pernah dipertimbangkan apakah materi tersebut sesuai dengan potensinya atau tidak.

Akhirnya peserta didik berkembang bukan berdasarkan potensi nya namun seolah-olah karena keterpaksaan.

Harus diakui bahwa peserta didik kita mayoritas sama sekali tidak memiliki cita-cita untuk menjadi apa kelak, meskipun ada yg punya tetapi tidak jelas, yg terjadi adalah mereka belajar secara ngambang dan tidak memiliki arah yg jelas, yg penting berangkat sekolah.

Satu hal yang penting adalah para pendidik kita tidak mengarahkan anak untuk mewujudkan cita-citanya namun bagaimana anak supaya bisa menghapal semua materi pelajaran tanpa terkecuali.

Selain itu kurikulum 2013 yang terlalu menekankan kegiatan interaktif dikelas ternyata mempunyai halangan karena tidak semua sekolah mampu menyediakan fasilitas yg bisa menunjang kegiatan tersebut.

Rendahnya kualitas pendidikan bukanlah dari pendidikan sendiri, tetapi lebih banyak berasal dari lingkungan sekitarnya, berarti banyak yg saling mempengaruhi karena melibatkan guru, pengelola sekolah, masyarakat, peserta didik dan terutama pemerintah sebagai pembuat kebijakan.

Adapun solusi dari masalah diatas dengan mengubah sistem pendidikan melalui cara mendidik siswa dengan mengarahkan mereka untuk lebih kreatif dalam melakukan kegiatan, dan pemerintah harus lebih cepat menangani masalah pendidikan terutama dalam membuat kurikulum yang sesuai dengan kondisi para siswa, dengan menciptakan kurikulum yang lebih mengarah dalam menggali potensi diri mereka.

Tidak hanya pemerintah, tetapi masyarakat harus membantu untuk meningkatkan kesadaran bahwa menuntut ilmu sangat penting.

Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia akan semakin baik dan akan mampu meneruskan cita-cita bangsa dalam dunia internasional.

(Ii Syafrillah)