Mengenang 100 Hari Meninggalnya Muhammad Yamin SH : YAMIN, JOKOWI, DAN TAUFIK KIEMAS

93

Oleh : Eko Sulistyo

Kepergiaanya yang mendadak, membuat tidak hanya saya, tapi juga teman-temannya yang selama ini mengenal sosoknya yang murah senyum dan suka bercanda, terutama para aktifis’ 80/90an, politisi, dan relawan Jokowi, seperti tidak percaya. Yamin yang saya kenal pada tahun 1988 adalah sosok aktifis dan politisi yang punya komitmen tinggi terhadap perjuangan rakyat. Sosoknya yang mudah bergaul, punya wawasan luas, bicaranya yang terstruktur, membuatnya mudah diterima dan disegani oleh kawan maupun lawan politiknya.

Yamin yang saat itu tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, tidak hanya dikenal sebagai aktifis pergerakan mahasiswa. Sebagaimana para aktifis pergerakan mahasiswa saat itu, Yamin juga aktif di pers mahasiswa HIMMAH UII. Sebuah rumah kontrakan di gang sempit bernama “Rode” di Jalan Sultan Agung, Yogyakarta, menjadi saksi sejarah sebagian hidup Yamin bergelut dengan dunia aktifis pergerakan. Rode tidak hanya menjadi rumah singgah bagi para aktifis dari berbagai kota, tapi juga markas untuk merancang berbagai aksi mahasiswa dan perlawanan rakyat di berbagai daerah.

Di era rezim Soeharto yang represif dan alergi terhadap pergerakan mahasiswa, Rode menjadi salah satu pusat persemaian pikiran kritis mahasiswa dan perlawanan rakyat terhadap kekuasaan Orde Baru. Yamin adalah sosok yang paling menonjol diantara teman-temannya yang tinggal di Rode. Masih terngiang dalam ingatan, saat puncak acara “Reuni 30 Tahun Rode” pada 16-18 November 2018 di Rumah Rode, Yogyakarta, Yamin tidak hanya menjadi penggerak acara, tapi juga berkeinginan mendokumentasikan Rode sebagai rumah demokrasi. Keinginan yang bukan dilandasi subyektifitas, tapi berangkat dari kesadaran untuk merawat memori bersama bahwa demokrasi saat ini adalah buah perjuangan rakyat dan mahasiswa. Rode telah memberi kontribusi pada perjuangan demokratik melawan rezim otoriter Orde Baru.

Pergerakan Rakyat

Sebagai aktifis mahasiswa saat itu, Yamin tidak percaya kekuatan Orde Baru hanya bisa dikalahkan hanya dengan gerakan mahasiswa. Bukannya tidak percaya pada gerakan mahasiswa, tapi kekuasaan Orde Baru terutama melalui kebijakan politik floating mass, tidak hanya mengkerdilkan peran politik mahasiswa, jauh dari itu telah melumpuhkan perlawanan rakyat. Untuk melawan Orde Baru, perlu dibangun kesadaran politik dan organisasi kekuatan rakyat. Disinilah Yamin menegaskan pentingnya peran aktifis mahasiswa terlibat dalam pembangunan organisasi rakyat berbasis kasus di masyarakat.

Diantaranya kasus penindasan rakyat yang menonjol saat itu adalah kasus petani Waduk Kedung Ombo di Sragen. Kedung Ombo adalah nama waduk di Jawa Tengah yang dibangun pemerintah Orde Baru pada tahun 1985. Waduk ini sebagai pembangkit tenaga listrik 22,5 megawatt dan dapat menampung air untuk kebutuhan 70 hektare sawah disekitarnya (https://id.wikipedia.org). Pembangunan Waduk Kedung Ombo dibiayai USD 156 juta dari Bank Dunia, USD 25,2 juta dari Bank Exim Jepang, dan APBN.

Presiden Soeharto meresmikan Waduk Kedung Ombo pada 18 Mei 1991, meski kenyataannya waduk sudah diairi sejak 14 Januari 1989. Menenggelamkan 37 desa, 7 kecamatan di 3 kabupaten, yaitu Sragen, Boyolali, Grobogan. Sebanyak 5268 keluarga kehilangan tanahnya. Sebanyak 600 keluarga bertahan karena ganti ruginya dianggap tidak manusiawi sebesar Rp 250,-/m². Warga yang bertahan juga mengalami teror, intimidasi dan kekerasan fisik. Warga yang bertahan terpaksa tinggal di tengah genangan air.

Romo Mangun, Romo Sandyawan dan K.H. Hammam Ja’far, adalah tokoh-tokoh masyarakat yang mendampingi para warga yang bertahan di lokasi dengan membangun sekolah darurat untuk anak-anak di Kedung Ombo. Selain mereka, keterlibatan LSM dan peran aktifis mahasiswa, penting untuk dicatat disini. Yamin adalah seorang community organizer yang tangguh dalam kasus Kedung Ombo. Tidak hanya memberi pendidikan politik dan advokasi, Yamin juga aktif mendampingi petani Kedung Ombo melakukan aksi-aksi protes ke DPR, Depdagri, dan perwakilan Bank Dunia di Jakarta, dan di daerah.

Dinamika gerakan mahasiswa dan pendampingan rakyat inilah yang mempertemukan saya dan para aktifis mahasiswa Solo seperti Wahyu Susilo (adik Wiji Thukul), Wuri, Ade Jumiatno, Hero dan lain-lain yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Solo (IMS), dengan Yamin di era 80an. Solo yang kebetulan dekat dengan wilayah Sragen, menjadi tempat persinggahan Yamin dan para aktifis mahasiswa luar kota yang akan live in di Kedung Ombo. Solo tidak hanya strategis secara geografis, tapi juga banyak LSM seperti LPTP, YBKS, Yaphi, YIS, YPP, LSPP, Bhakti Satria yang membantu advokasi petani Kedung Ombo.

Dari sini, kerja-kerja politik pendampingan rakyat yang dilakukan para aktifis mahasiswa dan LSM menemukan strategi perlawanan rakyat Kedung Ombo makin meluas dan ideologis. Komite Solidaritas Korban Pembangunan Kedung Ombo (KSKPKO) dibentuk sebagai wadah perjuangan rakyat dan aktifis mahasiswa untuk perjuangan petani Kedung Ombo. Pada posisi ini, Yamin sangat memberi warna dan kharakter gerakan mahasiswa khususnya para aktifis di Solo, yang dengan sadar mampu menghubungkan teori dan realitas sosial untuk men-support dan meng-counter hegemoni negara pada arus transformasi sosial.

Pilkada DKI Jakarta

Selepas mahasiswa, Yamin dengan beberapa anak Rode pernah mendirikan Lembaga Advokasi Rakyat (Lekat). Bersama Ifdal Kasim, kawannya sesama aktifis di UII, mantan Ketua Komnas HAM, saat ini menjadi Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, dan seniornya di UII Sholeh Amin SH, sempat membuka kantor pengacara di Solo. Dijalaninya satu tahun sebagai pengacara professional, Yamin memutuskan pulang kampung ke Palembang menjadi pengacara di LBH Palembang.

Di kota kelahirannya, Yamin pernah menjadi anggota Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Palembang untuk membela kasus penyerbuan markas Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jakarta pada 27 Juli 1997. Aktifitasnya sebagai pengacara TPDI dan sebagai orang Palembang (wong kito galo), mengantarkannya tidak hanya terpilih sebagai anggota DPR-RI (1999-2004) dari PDIP, tapi juga kedekatannya dengan Taufik Kiemas (TK), politisi berdarah Palembang yang juga suami Megawati, Ketua Umum PDIP.

Sebagai orang dekat TK, Yamin hampir tidak pernah absen menemani TK kunjungan ke daerah-daerah. Ketika tidak menjadi anggota DPR lagi, Yamin pernah menjadi staf khusus TK sebagi Ketua MPR-RI (2009-2013). Dalam suatu kunjungan kerja di Solo, Yamin mengundang saya dan mengenalkan dengan TK di Hotel Kusuma Sahid. Yamin mengatakan saya sebagai mantan aktifis mahasiswa Solo dan Kedung Ombo. Disinilah saya merasakan keakraban dari TK, yang sebelumnya hanya saya lihat di TV dan media cetak sebagai politisi senior dan suami dari seorang ketua umum partai terbesar di Indonesia.

Mungkin karena TK juga berlatar belakang aktifis, dalam obrolan itu saya mendapat pertanyaan mengejutkan, “Bagaimana revolusi Kedung Ombo???” Pertanyaan yang sangat membekas bagi saya. Karena kemudian selalu dilontarkan TK setiap ketemu saya. Pertanyaan itu sendiri mungkin sekedar basa-basi, tapi bagi saya hal itu untuk menunjukkan keakraban dan daya ingat seorang TK terhadap orang-orang yang dikenalnya.

Peristiwa penting yang kemudian mempertemukan kembali saya dengan Yamin dan TK adalah saat pemilihan gubernur (Pilkada) DKI Jakarta pada tahun 2012. Dalam Pilkada tersebut, posisi politik TK awalnya tidak mendukung Walikota Solo, Joko Widodo (Jokowi) maju sebagai calon gubernur (cagub) DKI Jakarta berpasangan dengan Basuki T. Purnama (Ahok) yang dicalonkan PDIP dan Gerindra. TK nampaknya punya pertimbangan politik sendiri agar PDIP tetap mendukung Fauzi Bowo (Foke) sebagai calon petahana didampingi calon yang berasal dari PDIP.

Dalam posisi politik tersebut, Yamin adalah orang yang berperan mencairkan hubungan dan komunikasi antara TK dengan Jokowi. Yamin mengusulkan kepada saya agar Jokowi bertemu dengan TK yang akan diaturnya. Yamin juga meyakinkan bahwa pada dasarnya TK jika ditemui sendiri oleh Jokowi akan senang dan akan mendukungnya. Tanpa pikir panjang, saya langsung sampaikan ke Pak Jokowi di tengah kesibukan kampanye saat itu. Mendengar usulan itu, Jokowi langsung menugaskan saya untuk segera mengatur pertemuan dengan TK melalui Yamin.

Pertemuan itu kemudian dilangsungkan di rumah dinas Ketua MPR-RI di Wisma Widya Chandra. Yamin adalah orang pertama yang menyambut Jokowi dan mengantarkannya ke ruang pribadi TK. Saya beserta ajudan, dan tiga pengawal dari Polda Metro menunggu sambil ngobrol dengan Yamin di ruang tamu. Kira-kira 30 menit, Jokowi keluar dari kamar TK dengan wajah sumringah karena hasilnya seperti dikatakan oleh Jokowi kepada saya, “Pak Eko, Pak TK tadi merestui dan mendukung saya di Pilkada DKI”.

Dukungan TK memang sangat dibutuhkan oleh Jokowi sebagai bagian full support dari PDIP dalam pertarungan Pilkada DKI Jakarta yang keras saat itu. Tak heran saat akan meninggalkan kediaman TK, Jokowi bersalaman erat sambil mengucapkan terima kasih kepada Yamin sebagai sosok yang telah menjembatani pertemuan penting tersebut. Yamin bukan orang yang sebelumnya tidak dikenal oleh Jokowi. Yamin pernah saya bawa ke rumah dinas Walikota Solo, Loji Gandrung, untuk bertemu dengan Jokowi. Istri Yamin, Neni (Yuni Setya Rahayu) adalah kader PDIP yang menjadi wakil bupati Bantul saat itu, yang tentu dikenal baik oleh Jokowi.

Sejak itu, Yamin sangat inten mengajak ketemu saya untuk mendiskusikan strategi pemenangan Pilkada DKI Jakarta. Satu lagi saran Yamin yang penting dan disetujui Jokowi adalah ketika hari “H” pencoblosan. Yamin menyarankan agar Jokowi mendampingi Bu Mega dan Pak TK saat pencoblosan di tempat pemungutan suara (TPS) di Kebagusan, Jakarta Selatan, rumah kediaman beliau. Saran ini penting karena saat itu Jokowi belum memiliki kartu tanda penduduk (KTP) DKI Jakarta sehingga tidak bisa mencoblos.

Keberadaan di hari pencoblosan bagi seorang calon adalah momen penting untuk diketahui publik dan media. Maka di pagi hari di hari pencoblosan, selepas minta doa restu kepada ibundanya di rumah Gang Arab, Jokowi ditemani ajudan dan pengawal langsung meluncur ke Kebangusan untuk mendampingi keluarga Bu Mega dan Pak TK menyalurkan hak pilihnya. Di Kebagusan, saya dan Yamin menyaksikan Jokowi bersama keluarga besar Ketua Umum PDIP keluar kediaman menuju TPS di depan rumah dengan diringi para kader, satgas partai, wartawan dalam dan luar negeri, dan ratusan warga Kebagusan.

Pilkada DKI Jakarta akhirnya dimenangkan oleh pasangan Jokowi-Ahok yang diusung PDIP dan Gerindra dengan dua putaran (second round) karena tidak ada pasangan calon yang memperoleh suara 50%+1. Pada putaran kedua, pasangan Jokowi-Ahok harus melawan pasangan petahana Foke-Nara yang diusung partai Demokrat, yang kemudian juga mendapat tambahan dukungan dari PKS dan Golkar setelah pasangan calonnya kalah dalam putaran pertama. Jokowi yang mengandalkan strategi kampanye blusukan ke pasar-pasar tradisional, kampung-kampung di Jakarta, dan dukungan para relawan, akhirnya keluar sebagai pemenang mengalahkan pasangan petahana.

Pasca kemenangan, Yamin menyarankan kepada saya agar Jokowi silaturahmi kembali ke TK yang saat itu sedang sakit sebagai bentuk terima kasih atas dukungan yang diberikan. Ada peristiwa menarik saat Jokowi kemudian mengunjungi kembali kediaman TK pasca kemenangan Pilkada DKI Jakarta. Seperti dikatakan oleh Jokowi kepada saya, “Pak Eko, tadi Pak TK bilang, kemenangan Pilkada DKI Jakarta jadi obat sakit saya”. Saya menjawab, “bagus itu Pak Joko, itu menandakan Pak TK sayang ke jenengan (Jokowi), dan mendukung jenengan jadi Gubernur DKI Jakarta.

TK Meninggal Dunia

Pada 8 Juni 2013, kira-kira pukul 18.30 Wib, saya dapat telpon dari Yamin mengabarkan Pak TK telah meninggal dunia di Singapura. Yamin menanyakan keberadaan Pak Jokowi apa ada di Jakarta atau pulang ke Solo. Yamin juga menyarankan agar secepatnya Pak Jokowi dihubungi mengenai kabar duka tersebut. Tapi tak beberapa lama, nomer telpon Pak Jokowi masuk ke HP saya, menanyakan pendapat saya kira-kira apa yang perlu dipersiapkan karena keberadaannya baru saja tiba di Solo untuk menjenguk keluarga.

Seperti di sarankan Yamin, saat itu saya menyampaikan pentingnya keberadaan Pak Jokowi malam itu juga di kediaman Bu Mega di Jalan Teuku Umar sebagai kader partai, Gubernur DKI Jakarta yang sekaligus juga tetangga karena rumah dinas Gubernur di Jalan Surapati tidak jauh dari rumah duka. Tak lupa saya juga menyarankan pak Jokowi untuk menugaskan Kasatpol PP, Kepala DLLAJR, dan Kepala Protokol Pemerintahan DKI Jakarta untuk membantu mengatur parkir, lalu lintas, dan menyiapkan tenda untuk meyambut kedatangan jenasah dan tamu yang akan melayat.

Kira-kira pukul 21.30 Wib, malam itu, Jokowi sampai di rumah duka di Teuku Umar, menyalami pelayat yang duduk di tenda rumah duka dan kemudian masuk ke kediaman untuk menyapaikan belasungkawa kepada Ibu Mega dan keluarga. Jelas sekali di raut wajah Jokowi malam itu, antara rasa capek dan perasaan kehilangan Pak TK jadi satu. Dalam sambutannya mewakili keluarga melepas jenasah almarhum TK, Jokowi seolah mengingatkan kembali kata-kata yang pernah disampaikan TK kepadanya saat Pilkada DKI Jakarta. “Pak TK adalah guru politik saya, senior saya. Saat saya memenangkan Pilkada DKI Jakarta, beliau menganggap kemenangan itu sebagai obat sakit beliau.” Demikian kata-kata Jokowi yang menunjukkan rasa kehilangan almarhum TK yang selama ini banyak membantu dalam karir politiknya.

TK adalah politisi senior PDIP yang lahir di Jakarta, 31 Desember 1942. Meninggalkan seorang istri Dyah Permata Megawati Setyawati atau lebih dikenal dengan Megawati Soekarnoputri, dan tiga anak, Mohammad Rizki Pratama, Mohamad Prananda Prabowo, dan Puan Maharani Nakshatra Kusyala. Sebelum meninggal, TK menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Singapura setelah mendampingi Wakil Presiden Boediono meresmikan Monumen dan Situs Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende, Nusa Tenggara Timur bertepatan dengan Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945.

Seknas dan Pilpres

Yamin adalah salah satu politisi PDIP yang mendorong Jokowi dicalonkan partainya sebagai calon presiden (capres) pada Pilpres 2014. Dalam upayanya itu, Yamin bersama para aktifis mahasiswa 80/90an dan LSM di Jakarta mendirikan Sekretariat Nasional Jaringan Organisasi dan Komunitas Warga Indonesia disingkat Seknas Jokowi, sebagai organ relawan Jokowi untuk Pilpres 2014. Selain Yamin, Dadang Juliantoro, Waluyo Jati, Sammy Pangerapan, Hilmar Farid, Deddy Mawardy, Juli Eko Nugroho, Osmar Tanjung, almarhum Zulkarnaen (mantan Direktur Walhi), Boni Setiawan (Global Justice), adalah nama-nama yang membidani kelahiran Seknas Jokowi.

Yamin kemudian ditunjuk sebagai Ketua Seknas Jokowi dan Dadang Juliantoro sebagai sekretaris. Tugas pertamanya mendirikan cabang-cabang Seknas Jokowi di daerah-daerah dan di luar negeri untuk memperluas jaringan. Sebagai ketua, Yamin dengan pengurus Seknas Jokowi beberapa kali ketemu dengan Jokowi untuk melaporkan kegiatannya yang telah dan akan dilakukan. Baik secara mandiri atau berkoalisi dengan relawan Jokowi lainnya, Seknas Jokowi sangat aktif melakukan sosialisasi di Jakarta dan daerah untuk menaikkan popularitas dan elektabilitas Jokowi sebagai capres.

Di Jakarta, hampir setiap minggu Seknas Jokowi membuat kegiatan di car free day dan kampung-kampung mempromosikan kerja-kerja Jokowi baik selama menjadi Walikota Solo maupun Gubernur DKI Jakarta.
Ketika PDIP secara resmi mengumumkan nama Jokowi sebagai capres yang akan diusung pada Pilpres 2014, Yamin adalah orang pertama yang menghubungi saya untuk menyampaikan ucapan selamat atas pencalonan itu.

Pasca pengumuman, para organ relawan Jokowi makin bersemangat dan meningkatkan kegiatannya. Salah satu kegiatan Seknas Jokowi yang menurut saya mempunyai nilai legacy adalah saat menghimpun para pakar dari berbagai disiplin ilmu untuk menyiapkan paper policy untuk masukan penyusunan visi misi Jokowi dalam “Simposium Nasional Jalan Kemandirian Bangsa” pada 11 Maret 2014 di Hotel Sultan Jakarta.

Hasil simposium itu kemudian diterbitkan dalam dua buku oleh Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, dengan judul yang sama, Jalan Kemandirian Bangsa (Gramedia, 2014). Edisi pertama terbit lebih tipis memuat konsepsi visi kemasyarakatan. Sementara buku versi tebalnya memuat konsepsi Visi Kemasyarakatan Indonesia Abad 21, Landasan Jalan Kemandirian; Geopolitik Indonesia sebagai Negara Maritim; Kekuasaan Negara dan Demokrasi; Reforma Agraria dan Lingkungan Hidup; Pembangunan Infrastruktur dan Antisipasi Kebencanaan; Industri dan Perdagangan; Politik Energi; Pendidikan dan Kebudayaan; Manusia Indonesia, Kepandudukan dan Tenaga Kerja; Riset dan Tehnologi, Keuangan; Paradigma Kemandirian dalam Pembangunan.

Dalam pengantarnya di buku versi tebal lebih 700 halaman, Jokowi mengapresiasi penyelenggaraan Simposium Nasional Jalan Kemandirian Bangsa yang telah dihadiri para rektor dan guru besar yang dari berbagi perguruan tinggi yang tidak hanya menunjukkan keseriusan intelektual tapi juga komitmen pada upaya mencari jalan yang dapat membawa bangsa Indonesia menuju kemakmuran.

Menurut Jokowi, Jalan Kemandirian Bangsa yang dirumuskan dalam simposium menjadi sumbangan penting bagi kita untuk menetapkan landasan pembangunan ke depan. Secara khsusus, Jokowi juga menyampaikan terima kasihnya pada Seknas Jokowi yang telah memprakarsai, mengorganisir, dan merumuskan hasil simposium.

Itulah gambaran secara umum peran Seknas Jokowi yang dimotori Yamin dan teman-teman yang dikenalnya semasa menjadi aktifis mahasiswa dalam mendukung Jokowi menjadi presiden pada Pilpres 2014. Latar belakangnya yang politisi memudahkan langkah Yamin dan Seknas Jokowi berkomunikasi dengan partai-partai pendukung Jokowi terutama PDIP selama kampanye memenangkan pasangan Jokowi-JK dalam laga Pilpres 2014.

Dedikasi dan semangat kerja politiknya bersama Seknas Jokowi dalam mendukung Jokowi ibarat melebihi dalam menjaga kesehatan sendiri. Yamin memang tidak pernah surut komitmennya bersama Seknas Jokowi dan organ relawan Jokowi lainnya dalam mendukung Jokowi. Itu pula yang seolah ingin ia tunjukkan dengan meninggalkan kita semua dalam rombongan perjalanan pulang bersama teman-temannya dari Seknas Jokowi sehabis melakukan kegiatan kampanye memenangkan Jokowi-Maaruf Amin di Jawa Barat dalam Pilpres 2019.

Kini Yamin telah tiada, ia juga tidak sempat menyaksikan kembali pelantikan Jokowi sebagai presiden periode kedua (2019-2024) yang telah diperjuangkannya sebagaimana dulu ia bersama para relawan Jokowi dan rakyat Indonesia mengantarkan Jokowi-JK dalam iring-iringan pawai rakyat ke gerbang Istana Negara.

Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin mengutip sebagian pesan Yamin yang ditulisnya di facebooknya sehari sebelum meninggal dunia, “Mereka Orang Baik atau Kita yang Kurang Baik”.

“Mendukung boleh. Tapi jangan terlalu fanatik sehingga akal sehatmu tidak dipakai. Alangkah lebih baik jika engkau dukung dengan doa. Doakan Pak Jokowi dan Pak Prabowo. Jika tidak suka Pak Jokowi tidak perlu dihujat, fitnah, dihina fisik. Begitu juga sebaliknya, jika tidak suka Pak Prabowo tidak perlu dihina, dihujat atau dihina fisik. Doakan masing-masing saja. Apakah menghujat akan membuat hatimu merasa puas? Tidakkah justru akan menambah pundi-pundi dosa?”

Demikian pesan terakhir Yamin yang sarat makna untuk kita renungkan dalam menyikapi Pilpres 2019 yang diwarnai hoaks, fitnah dan ujaran kebencian, terutama di sosial media yang bisa merusak persatuan dan persaudaraan antar anak bangsa. Janganlah kita kemudian terjebak pada fanatisme buta yang mengabaikan pikiran rasional.

Dalam konteks politik saat ini, pesan ini penting untuk merajut kembali persatuan dan kesatuan kita sebagai warga bangsa. “Jangan hanya perbedaan terus kalian nggak bisa ngopi bareng, nongkrong bareng, ngaji bareng, belanja bareng, bahkan sindir-sindiran di Sosmed. Lebih parah lagi jika putus silaturrahmi sesama saudara”.

Jakarta, 27 Mei 2019

————
* Penulis adalah aktifis mahasiswa 80/90an. Saat ini Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden.