KPAI Bogor Siap Luncurkan Aplikasi Layanan Pengaduan

188

berantasonline.com (BOGOR)

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bogor, Medi Sumedi, bersyukur terhadap menurunnya angka kekerasan dan pelecehan terhadap anak di wilayah kerjanya yang meliputi Kota maupun Kabupaten Bogor.

Dari data beberapa tahun terakhir menyebutkan, untuk angka kekerasan dan pelecehan terhadap anak memang menunjukkan kenaikkan, tapi tidak terlalu signifikan,tahun 2019 ada 60 lebih.

“Kasus yang ditangani mencakup 6 kecamatan di Kota Bogor dan 40 kecamatan di kabupaten Bogor”, ungkap Medi Sumedi saat dijumpai wartawan berantasonline.com diruang kerjanya, Rabu (18/9).

Kekerasan ataupun pelecehan terhadap anak, menurut Medi, justru lebih banyak pelakunya bukan orang lain atau orang yang jauh dari tempat tinggal nya, melainkan orang orang terdekat seperti orang tuanya, sanak familinya, bahkan ada juga pelaku merupakan tetangganya sendiri.

“Banyak kasus yang tidak terdeteksi akibat masyarakat banyak yang tidak melapor atau takut untuk melaporkan, sehingga kasus kasus yang seharusnya di tangani secara serius, hanya berlalu begitu saja dan tidak bisa memberi efek jera bagi para pelaku ataupun karena pelaku tidak tersentuh hukum”, tuturnya.

Untuk bisa membangun para penerus bangsa yang siap dan tangguh serta mentalitas yang baik, sambung Medi, yakni melalui pembangunan mental anak anak di usia dini.

“Bgaimana para penerus bangsa ini akan tangguh dan berakhlak baik, kalau di saat usia anak anak jauh dari perhatian yang serius dari para orang tuanya, palagi disaat sekarang, teknologi dan perkembangan jaman yang begitu dahsyatnya, Handphone / gadget dengan mudahnya bisa membentuk karakter anak, orang tua dengan begitu mudahnya memberikan Hp kepada anak yang seharusnya belum saat nya mereka memakai Handphone, dengan harapan anak akan lebih tenang dengan kesibukkan nya mengotak ngatik Hp, dengan harapan orang tuanya tidak terganggu oleh anak nya sendiri”, papar Medi.

Medi Sumedi menambahkan, saat ini KPAI Kota Bogor sedang membuat system yang terintegrasi dengan Disdukcapil melalui suatu aplikasi.

“Nantinya hanya dengan memasukkan nomor NIK KTP ataupun kartu keluarga akan cepat mengetahui data masyarakat yang melaporkan kasus kekerasan terhadap anak, disitu Disdukcapil mempunyai data yang akurat. Aplikasi yang akan berisi layanan pengaduan dan konseling diharap bisa membantu mempercepat penanganan kasus kasus kekerasan dan pelecehan terhadap anak, sehingga diharapkan bisa membangunan generasi mendatang yang kuat, tangguh, berakhlak baik dan mental ksatria”, imbuhnya.

Dengan aplikasi tersebut juga akan terlihat daerah mana saja yang sering terjadinya kasus kasus, dan menjadi data yang akurat disamping bisa menjadi kontrol buat pemerintahan desa atau kelurahan.

Dengan jumlah komisioner 6 orang dikantornya, Medi Sumedi selalu optimis bisa mengurangi kekerasan yang ada di kota dan kabupaten Bogor.

(Achmad Hidayat)