Kepala SMK Bambu Pasundan Diduga Korban Pinjaman Proyek Fiktif Dilapor ke Polda Metrojaya

64

Laurus Sumanto Amat Dirut Emas Finance.

berantasonline.com (Bogor) – Malang benar nasib Dedi Maulana (51) sudah jatuh ketimpa tangga. Kepala SMK Bambu Pasundan Cigombong Bogor itu menjadi korban tipu tipu berdalih kerjasama Proyek fiktif untuk pengadaan mesin pabrik sedotan plastik di Pasar Kemis Tanggerang.

Dedi Maulana menuturkan kepada Wartawan berantasonline.com, Selasa (29/10) bahwa awalnya dia membutuhkan dana untuk membangun ruang praktek sekolah yang dipimpinnya. Akan tetapi meminjam untuk keperluan pembangunan sekolah tidak bisa kecuali untuk keperluan perusahaan.

Dengan bantuan Bertha Arimani, kata Dedi dia dipertemukan kepada seorang yang mengaku bos Pabrik Sedotan Plastik CV. Sinar Mandiri yang dapat mengusahakan pinjaman kepada Emas Finance Jl Daan Mogot Tangerang. Namun Peri mengajak kerjasama untuk membeli mesin buat menambah keperluan pabrik sedotan plastik yang seolah olah miliknya dengan janji keuntungan 3 persen tiap bulan.

Untuk itu, Dedi diminta menyediakan sejumlah dana, akhirnya Dedi Maulana terbuai dengan keuntungan yang dijanjikan oleh Peri, sehingga berdalih untuk membiayai pembelian mesin. Dedi diajak mengurus pinjaman ke Emas Finance Jl Daan MogotTangerang, Dedi menjaminkan Sertifikat tanah milik No.931 Cigombong Bogor untuk mendapatkan pinjaman sebanyak Rp 1.500.000.000 (satu setengan miliar) dan uang tersebut disetorkan kepada Peri Wibowo melalui Rekening Bank Panin an CV Sinar Mandiri, dengan janji pinjaman sementara sebesar Rp 655.000.000 (Enam ratus lima puluh lima juta) dan sebanyak Rp 575.000.000 dipakai sendiri oleh Dedi untuk membangun ruang praktek SMK Bambu Pasundan.

Uang pinjaman dari Emas Finance tersebut dicairkan tanggal 3 Oktober 2018, setelah proses administrasi dibuat tanggal 1 Oktober 2018 dihadapan Petugas Notaris Sakti Alamsyah di Cibubur Jakarta Timur. Dimana dalam pemrosesan administrasi semua berjalan cepat, pemilik Sertifikat yang jumlahnya 6 orang hanya satu orang yang tandatangan yakni Dedi Maulana, selebihnya tidak ikut tanda tangan yakni Hj Nuriyah, Erik Hudori, Ridwan Buana dan Apriyanti Iskandar.

Dedi Maulana

Setelah berjalan 3 bulan giliran Emas Finance menagih bunga pinjaman yang jatuh tempo 3 Januari 2019 karena harus menyetorkan tunggakan bunga Rp 350.000.000 dan denda Rp 58.887.000. Sementara Peri Wibowo yang memakai dana Rp 665.000.000 menghilang dan sulit dihubungi.

Dengan terbelit bunga tinggi dari Emas Finance Dedi kelabakan. Dan atas anjuran Laurus Sumanto Amat Dirut Emas Finance akhirnya Dedi Maulana melaporkan Peri Wibowo ke Polda Metrojaya tanggal 24 Januari 2019 dengan Laporan Polisi No. LP/478/1/2019/PMJ/Ditreskrimum.

Dengan tuduhan melakukan penipuan dan atau penggelapan, bahkan Dedi mendapat bantuan Pengacara untuk mengurus kasus penipuan oleh Peri dengan mengeluarkan biaya Rp 35.000.000 dan juga menggunakan jasa seseorang mengaku Petugas bernama J yang berjanji akan dapat membantu menangkap Peri, lagi lagi Dedi tertipu oleh J dan terpaksa mengeluarkan dana Rp 30 juta, namun hingga sekarang Peri enggak juga tertangkap, ujar Dedi dengan nada sedih.

Belum juga urusan dengan Peri selesai, sekarang giliran Dirut Emas Finance Melaporkan Dedi Maulana ke Polda Metrojaya dengan Laporan Polisi No.LP/4588/VII/2019/PMJ/Ditreskrimm dengan tuduhan melanggar Pasal 378 atau 372 KUHP.

Dedi Maulana dengan nada sedih menuturkan sungguh tidak menyangka telah terjebak, karena polosnya dia diharuskan membayar seluruh pinjaman ditambah bunga yang tinggi, kalau begini saya terjebak pinjaman rentenir dan permainan, apalagi Pabrik sedotan plastik yang digunakan menipunya ternyata milik Dadang Alias Jamyati, kata Dedi Maulana mengakhiri keterangannya. (Red.1)