Kapolri Baru Harus Turun Tangan: 2000 Sumur Minyak Liar Beroperasi di Taman Hutan Raya Jambi

3773

berantasonline.com (Jambi) – Kapolri baru Jenderal Idham Azis ditantang harus turun tangan memberantas aktivitas penambangan mimyak liar di kawasan Taman Hutan Raya Sultan Taha Syaefuddin di Senami Kabupaten Batanghari Jambi yang saat ini semakin menggila, tidak kurang dari 2000 sumur minyak liar selama 6 bulan terakhir beroperasi tidak kuasa dihentikan aparat keamanan setempat.

Yang memperihatinkan pencemaran limbah minyak dari sumur liar tersebut telah mencemari anak sungai yang bermuara ke Sungai Batanghari. Akibat pencemaran lingkungan tersebut ratusan pohon karet dan sawit dan vegetasi hutan serta satwa dalam Tahura mati bergelimpangan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Batanghari Parlaungan mengatakan sejak awal tahun ini tercatat 250 hektar lahan di Taman Hutan Raya telah dirambah Penambang liar. Pihak Tim Terpadu dari Pusat dan Provinsi telah berusaha menghentikan Praktek itu, dan mencarikan jalan keluar bagi pekerja tambang, namun hasilnya belum optimal.

Kegiatan Penambagan minyak liar itu berjalan secara masif di Desa Pompa Air dan Desa Bungku Kecamatan Bajubang Kabupaten Batanghari, bahkan penambangan liar itu telah mengokupasi Wilayah Penambangan Pertamina di Kawasan Tahura yang produksinya dikerjakan oleh Prakarsa Betung Meruo Senami (PBMS).

Yang mengenaskan walaupun Tim Terpadu telah mengultimatum para penambang untuk meninggalkan lokasi paling lambat tanggal 1 Oktober 2019. Namun kenyataanya hingga berita ini diturunkan praktek penambangan liar tersebut masih terus berjalan.

Sejak awal Oktober, Tim Terpadu telah melancarkan operasi gabungan bersama Petugas Perusahaan. Sekitar 100 sumur dan 1500 sumur pengeboran minyak illegal disana telah dirusak dan perlengkapan mesin tambang telah dibenamkan kedalam lumpur, malahan pada operasi ketiga Petugas diintimidasi oleh penambang.
Menuru juru bicara PT PBMS Sugeng sejak September tim Terpadu telah gencar melaksanakan sosialisasi kepada kalangan pekerja dilapangan. Namun pemodalnya tidak tersentuh, itu sebabnya penambang minyak illegal sulit diberantas. Selama pemodalnya belum hengkang para pekerja akan tetap nekat, katanya.

Pihaknya berulang ulang telah menutup sumur illegal, tetapi dibuka kembali oleh pekerja tambang, sejak Oktober telah ditutup sekitar 200 sumur illegal, namun beberapa lokasi dibuka kembali oleh penambang liar. Ledakan kerap terjadi bahkan meninbulkan korban tewas, bahkan warga sekitar mengeluhkan air sumur mereka tercemar limbah.

Public Relation and Assistant Manager Pertamina EP Asset 1 Jambi Andrew mengatakan penutupan tambang minyak liar ini membutuhkan dukungan Pemerintah Pusat. Pihaknya telah melaporkan dan meminta bantuan dari berbagai Kementerian dan Satuan Kerja, hingga kini belum ada arahan dari pusat, katanya.

Suatu tantangan bagi Kapolri Jenderal Pol Idham Azis dibantu Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bahwa negara tidak boleh kalah dengan para pencoleng dan perusak lingkungan. (bust/kp/PM)