Edgar : PKL Penggerak Ekonomi Kerakyatan Harus Ditata Dengan Kearifan Lokal

97

berantasonline.com (Bogor) – Pedagang Kaki Lima (PKL) merupakan salah satu penggerak ekonomi kerakyatan dan keberadaan mereka tak boleh diberangus, melainkan ditata rapih sehingga tidak mengganggu pengguna jalan.

Hal itu ditegaskan Edgar Suratman saat blusukan ke Pasar Kebon Kembang, Kecamatan Bogor Tengah, untuk menyapa sekaligus mendengar aspirasi pedagang kios dan pedagang kaki lima (PKL), Selasa (13/3).

Calon walikota Bogor nomor urut 2 dari jalur perseorangan ini mengatakan keberadaan PKL harus dibina, pemerintan daerah memang mesti tegas dalam menata PKL tapi dalam menangani keberadaan PKL harus mengedepankan kearifan lokal. Kalaupun akan ditertibkan jangan sampai mengorbankan pihak tertentu.

“Penertiban PKL harus dilakukan dengan cara musyawarah dan melibatkan seluruh stake holder. Jadi sebelum ditertibkan mesti ada tempat relokasi, tentunya berdasarkan hasil musyawarah. Mesti ada win win solution, sebab mereka juga punya hak hidup. PKL itu adalah sektor ekonomi informal, jadi di saat ekonomi belum stabil, sektor informal mesti bangkit,” jelasnya.

Lebih lanjut, kata Edgar, apabila diberi amanah menjadi walikota pihaknya akan melakukan kajian untuk membangun hanggar pada beberapa titik untuk tempat berjualan PKL.

“Ya, itu dalam upaya pembinaan dan penataan PKL. Kenyamanan itu bukan hanya milik mall, tapi juga pasar tradisional. Perekonomian harus tumbuh dari bawah ke atas,” ujar Edgar yang menjabat Dewan Penasehat Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Korwil Bogor.

Salah seorang PKL buah – buahan, Faisal mengeluhkan kurang perhatiannya pemerintah kepada pedagang kecil. Iapun meminta apabila terpilih nantinya, Edgar tidak sewenang – wenang dengan melarang PKL berjualan. “Kami paham, ada aturan yang melarang untuk berjualan di trotoar atau di bahu jalan. Tetapi, keluarga kita butuh makan,” katanya kepada wartawan.

Seharusnya, kata Faisal, apabila pemerintah mengeluarkan peraturan yang melarang PKL berjualan di suatu tempat, setidaknya ada tempat relokasi bagi mereka agar tetap bisa mengais rezeki.

“Kalau kami tak boleh jualan. Harusnya dikasih solusi, jangan hanya sebatas menertibkan tapi tak ada solusi. Mudah – mudahan bila Pak Edgar jadi walikota beliau bisa lebih prorakyat,” katanya. (Manan)