Dokumen Penyerahan Hutan Adat Imbo Putui Diterima Bupati Kampar

145

berantasonline.com (Riau) – Bupati Kampar H. Azis Zaenal SH MM, menerima penyerahan dokumen usulan hutan adat imbo putui di wilayah atau kenegarian yang akan ditetapkan status hukumnya oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI digelar di jantung Hutan Adat Imbo Putui Desa Petapahan Kecamatan Tapung, Kamis (13/09/ 2018).

Dari pantauan koran berantas di lapangan, acara penyerahan usulan hutan adat imbo putui tampak dihadiri oleh Wakil Bupati Kampar Catur Sugeng Susanto, SH, Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kampar, Ir. Cokro Aminoto, Regional Manager World Resauces Institute (WR) di Riau Rahmat Hidayat, PLH Camat Tapung Sutani Rakhmat, Kepala Desa Petapahan Said Aidil Usman SE, dan Kepala Desa se -Kecamatan Tapung, Ninik Mamak se-Kecamatan Tapung, ninik mamak dari Desa Gajah Betalu, Batu Sanggan, Kuok, Ketua Kelompok Tani tekat bersama Nurkholis didampingi sekretarisnya Mahyudin, serta pemerhati lingkungan, Tokoh masyarakat, ketua pemuda dan masyarakat.

Disela usai acara, Nurkholis selaku ketua kelompok tani tekad bersama ketua karang taruna permata desa Petapahan didampingi Mahyudin sekretarisnya mengatakan kepada koran berantas, “bahwa kami dari panitia lokal bersama Uri telah melaksanakan kegiatan penyerahan usulan hutan adat imbo putui, agar disetifikatkan dan diakui oleh pemerintah sebagai hutan adat imbo putui”,ucapnya.

“Jadi kegiatan kami telah selesai tadi langsung diterima oleh Bupati Kampar, bapak H. Aziz Zaenal SH, MM, usulan yang kami berikan. Kalau terkait dengan hutan adat imbo putui ini, beberapa waktu yang lalu UNDP juga telah hadir disini waktu acara untuk paving blok jalan hutan”, lanjutnya.

“Harapan kita kedepannya, bagaimana hutan imbo putui ini bisa lestari, serta terjaga dan bisa kita jadikan destinasi wisata di Kabupaten Kampar. Kami dari kelompok tani dan pemuda karang taruna desa Petapahan, akan bersama – sama menjaga kelestarian hutan imbo putui ini agar bisa dikembangkan nantinya. Karena jarak tempuh kita dari kota Pekanbaru itu sangat dekat, paling jauh jarak tempuhnya sekitar 1 jam. Dan dari jalan raya Petapahan – Tapung kesini 1 KM, sebab potensi wisata sangat besar disini,” kata Nurkholis.

Selanjutnya ditambahkan Mahyudin selaku Sekretaris Karang Taruna desa Petapahan, “alhamdulilah hari ini telah menyelesaikan acara bersama bapak Bupati Kampar, H. Aziz Zaenal SH MM, dalam rangka penyerahan berupa usulan menetapkan hutan adat yang berada di Kabupaten Kampar. Yang selama ini memang sudah dikelola juga oleh masyarakat setempat, tapi hanya dengan swadaya masyarakat desa Petapahan. Oleh karena itu untuk kedepannya, kami berharap kepada pemerintah melalui usulan ini agar bisa keluar legalitasnya dan dapat bantuan secara continue, supaya kita dapat melestarikan hutan adat imbo putui tersebut”, ungkapnya.

Kemudian untuk diketahui juga, “hutan imbo putui ini kami kelola sudah sekitar 5 tahun yang lalu, yang pertama melalui kelompok tani berkah bersama yang diketuai oleh Nurkholis. Kemudian membawa siswa peduli lingkungan hidup. Jadi untuk estafet kita kedepannya, melibatkan siswa /siswi SMKN 1 Tapung”, lanjutnya.

“Kita berharap kedepannya dari acara penyerahan ini, dokumen – dokumen tadi agar timbul yang pertama minat masyarakat banyak, yang kedua respon positif dari pemerintah Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, dan Negara Republik Indonesia yang telah disampaikan juga tadi oleh Bupati Kampar, Bapak H. Aziz Zaenal SH MM,” tutupnya.

Di tempat terpisah Kepala Desa Petapahan, Said Aidil Usman, S.E, yang akrab disapa SAU mengatakan kepada wartawan koran berantas di ruang kerjanya, “tentunya bukan harapan saya pribadi. Tentu jadi harapan kita bersama, khususnya masyarakat Desa Petapahan. Oleh sebab itu dengan adanya hutan adat imbo putui ini, tentunya akan terpelihara dari tangan – tangan jahat, sehingga hutan kita itu bisa terjaga dengan baik. Karena sama – sama kita ketahui, kelestarian hutan itu sangat penting. Ditambah lagi dengan kondisi daerah kita ini bukan rahasia umum lagi, memang sudah terbuka di depan mata bahwa Kabupaten Kampar ini secara umum khususnya Petapahan Tapung sudah dikelilingi oleh kebun kelapa sawit”, ucap Kades.

“Sementara keberadaan kebun kelapa sawit itu secara materil masyarakat sangat terbantu, tapi kalau secara lingkungan sama kita rasakan saja itu merusak. Kenapa dibilang merusak, karena pohon kelapa sawit itu menyerap air. Disitulah prosesnya tetap mengeluarkan imbas racun seperti, pemupukan, penyemprotan dan lain sebagainya itu, dengan adanya hutan tersebut tentunya menjadi paru – paru atau penyaring untuk elemen masyarakat itu sendiri”, imbuhnya.

Ditambahkan Said Aidil, dengan kondisi wacana akan dijadikan desa adat. Seperti acara tadi tentu ini akan terikat dengan budaya.

“Karena sama – sama kita ketahui Kabupaten Kampar ini adalah Kabupaten tertua, tentu ikatan adat dan budaya termasuk wilayah Desa Petapahan Kecamatan Tapung. Karena Desa Petapahan ini sebagian juga dari Kabupaten Kampar, berarti adat di desa Petapahan tapung ini adat Kabupaten Kampar. Dan ini menjadi kewajiban pemerintah Kabupaten Kampar, juga menjadi kewajiban kita selaku masyarakat Kabupaten Kampar. Bukan hanya menjadi kewajiban masyarakat desa Petapahan saja, karena ini paru – paru kota,” terang SAU.

Dengan adanya hutan ini sehingga menambah juga ilmu pengetahuan, menambah pendidikan bagi generasi penerusnya. Mengenai persoalan adat, tentu ada ciri khas adat itu sendiri. Ada dampak adat itu, ada juga yang bisa ditonjolkan oleh adat itu sendiri, salah satunya hutan adat. Jadi di adat itu bukan budaya, ketika kita bisa memelihara hutan dengan baik, disitulah adat. Adat itu adalah dari kata adam, jadi adat istiadat itu pengertiannya sopan santun,” kata SAU sambil tersenyum.

Terakhir SAU berharap, agar hutan adat imbo putui ini bisa mengangkat nama Kabupaten Kampar ketingkat dunia bila perlu, ketingkat Provinsi hingga ketingkat Nasional. Sehingga Kabupaten Kampar bisa menonjol dengan adanya hutan adat imbo putui ini, dan membantu program pemerintahan Bupati Kampar kita,” ujarnya.

(Robinson Tambunan)