Dialog Dirut PJW Dan Tim Kuasa Hukum Dengan H Unang Selaku Pengelola Batal Terlaksana

431

berantasonline.com (Bogor) – Rencana dialog untuk musyawarah antara Ageng Sedayu dan keluarga berikut tim kuasa hukumnya dengan H. Unang Mansyur, SH pengelola Panjang Jiwo Resort (PJW ) sedianya berlangsung, Kamis (05/07), tidak terlaksana karena tidak ada kecocokan tempat dialog digelar untuk musyawarah.

Ageng Sedayu selaku Dirut PJW melalui whatsapp kepada berantasonline.com, Kamis (05/07) menyebutkan, kami dan tim kuasa hukum memutuskan untuk tidak menghadiri dialog karena tempatnya di PJW Kp Babakan Tumas No. 9, Desa Cikeas, Sukaraja, Bogor.

Kami mengajukan tempat musyawarah di rumah makan Gurame Cobek kawasan Sentul karena tempat itu kami anggap netral. Kalau di PJW kami khawatir terjadi penekanan seperti beberapa hari yang lalu, karena sudah beberapa kali hendak mediasi tapi tidak ada titik temunya, ujar Ageng Dirut PJW.

H. Unang Mansyur, SH, pengelola PJW dalam keterangannya mengatakan, kenapa saya memilih dialog di PJW karena lebih gampang menjelaskan apa saja yang telah saya bagun termasuk fasilitas perlengkapan hotel, juga IMB yang selama ini terbengkalai. Bahkan akan lebih mudah berbicara fakta antara lain soal pajak perusahaan, PBB, pajak retribusi ke Pemda Kabupaten Bogor, yang sebelumnya tidak dibayar, semua saya hadapi.

Belum lagi kalau kita bicara kewajiban ke bank karena sebelum saya kelola PJW tahun 2015 hampir kolep, sebanyak 11 dari 14 SHM diagunkan di bank, siapa yang membayarnya selama ini, cicilan total yang saya keluarkan bila dijumlah puluhan miliar. Kalau tidak saya selamatkan PJW sudah diujung tanduk pasti sudah dilelang sama bank karena berstatus kredit macet.

Belum lagi berbicara secara pribadi saya menyelamatkan rumah Ageng Sedayu dan rumah Ibunya Ny. Kartika Astuti di Depok karena tidak mampu bayar, jadi perlu saya jelaskan bukan saja perusahaan yang saya selamatkan tapi urusan pribadi saya belain abis dsb, ujar H Unang.

Yang paling mengenaskan, lanjut H. Unang SH, 3 SHM dalam ruang lingkup PJW diagunkan lagi ke bank senilai Rp 10 miliar tanpa saya diajak bicara tiba tiba kredit macet hingga sekarang tagihannya mencapai Rp 18 miliar jumlah utangnya. Waktu itu objek PJW dan bangunannya memiliki ikatan kerjasama (MoU) dengan saya jadi tidak bisa sepihak segala sesuatunya.

Saya usaha butuh kenyamanan, bertubi tubi dibohongin seperti ini doakan saya bisa selesaikan satu persatu.
Dan perlu diingat bahwa perkaranya pasal 372 dan 378 sudah masuk di Polres Bogor sekarang 2 orang sudah berstatus tersangka. Tapi saya masih berbesar hati dan masih punya hati nurani selaku umat manusia, masih membuka ruang untuk dialog.

Perlu diingat luas lahan PJW dari 14 SHM 2,1 hektar dan 9 SHM sekarang ada di saya, 2 SHM diambil Ageng Sedayu dari bank setelah saya lunasin dan 3 SHM masih di bank. Saya bicara bukti dan fakta tidak bicara diluaran yang tidak memiliki alat bukti, ahir H. Unang Mansyuri, SH yang sudah malang melintang di dunia advokad ini. (sam)