Beresiko Terhadap Keselamatan Nyawa, RS Betha Medika Cisaat Sukabumi Tolak Pasien Jampersal

134

berantasonline.com (Sukabumi) –

Senin (3/8), salah seorang warga Desa Babakan Kecamatan Cisaat Kabupaten Sukabumi, bernama Hendi, mengeluhkan sikap manajemen Rumah Sakit Swasta Betha Medika, Cisaat, yang menolak melayani persalinan istrinya sebagai peserta Jampersal, pasca diterbitkannya Surat Edaran Dinas Kesehatan Kab Sukabumi nomor 440/4235/DINKES/2020 tentang Penghentian Pelayanan Jampersal per tanggal 2 Juli 2020.

Hendi menyayangkan sikap apatis pihak Rumah Sakit Swasta Betha Medika Kecamatan Cisaat yang mentah mentah menolak pelayanan persalinan peserta Jampersal, tanpa memperhatikan kondisi pasien yang membutuhkan pertolongan darurat medis.

“Saat itu pihak RS Betha Medika menolak melayani persalinan istri saya, mereka lambat dalam penanganan kepada pasien karna dilihatnya kami pakai jaminan dari Pemerintah (Jampersal). Bukan hanya saya saja yang bilang seperti ini, padahal pihak Dinas Kesehatan sudah memperingati pelayanan harus tetap diutamakan terutama yang bersifat genting”, terangnya.

Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Neng, yang dikonfirmasi wartawan berantasonline.com menuturkan, kejadian tersebut disebabkan kekeliruan pihak Rumah Sakit Betha Medika dalam melayani pasien.

“Padahal walaupun ada edaran Dinkes tersebut, tetap saja pelayanan itu harus dilakukan apalagi emergency, terlebih jika sudah keluar rekomendasinya, itu pasti akan di klaim”, ujarnya sambil berharap kejadian serupa tidak terulang lagi.

Saat dikonfirmasi, pihak RS Betha Medika membenarkan adanya peristiwa penolakan pasien peserta Jampersal tersebut.

“Kejadian tersebut dikarenakan adanya miss komunikasi dengan pihak Dinas Kesehatan, pasalnya kenapa pihak Rumah Sakit Betha Medika menutup pelayanan persalinan berbasis Jampersal dikarenakan adanya surat edaran tersebut”, jelas Evi selaku Petugas Pelayanan Pelanggan RS Betha Medika.

Evi juga sebelumnya telah meminta kepada pihak korban, agar kabar tersebut tidak sampai diedarkan ke publik.

Melihat hal tersebut, Hendi sebagai korban menambahkan, “Saya pribadi sudah memaafkannya, namun khawatir terjadi kepada pihak lain yang benar-benar tidak mampu atau jangkauannya sangat jauh yang sudah jelas akan beresiko terhadap keselamatan nyawa seseorang, padahal aturan yang berlaku sudah jelas pihak Rumah Sakit setidaknya harus melayani dalam kondisi apapun”, pungkasnya.

(Alex)