Bendungan Way Mendati Pekon Mon Ngambur Hancur Diterjang Banjir

667

berantasonline.com (Krui Lampung)

Bendungan Way Mendati, Pekon (Desa) Mon, Kecamatan Ngambur Kabupaten Pesisir Barat Lampung, Rabu lalu (18/9) hancur berantakan akibat diterjang banjir.

Proyek pembangunan bernilai Rp 660.542.924.22 itu didanai lewat APBD tahun 2019 Kabupaten Pesisir Barat, dikerjakan oleh kontraktor CV. Arasy Jaya Konstruksi.

Diduga akibat buruknya konstruksi bangunan, menyebabkan kurangnya daya tahan sehingga perlu diperiksa BPK atau Kejaksaan Tinggi Lampung.

Jebolnya Bendungan Way Mendati itu, menurut seorang warga dan tokoh masyarakat setempat, terjadi ketika diguyur hujan sekitar setengah jam, keadaan hujan biasa biasa saja tapi bangunan tanggul bendungan sudah tidak kuasa menahan air.

Menurut warga dan tokoh masyarakat setempat, dari awal ketika melihat pengerjaan proyek ini sudah nampak asal asalan, “Penggalian pondasi hanya kisaran 1,5 meter hingga 2 meter saja, padahal pembangunan bendungan irigasi itu haruslah kokoh, karena akan menampung debit air yang cukup banyak”, ujarnya.

Tokoh masyarakat tersebut mengatakan, patut dicurigai pekerjaannya dilakukan asal asalan, terlihat dari sisa sisa material bangunan yang roboh menggunakan material semen yang sangat minim, yang ada hanya tumpukan pasir dan batu saja.

“Kalau mau bangun, bangunlah yang bagus bagus, ini kan buat mengairi persawahan warga sekaligus mendukung Program Pembangunan Bupati Agus Istiqlal agar masyarakat di Pesisir Barat kehidupannya sejahtera. Jangan mau mengambil untungnya saja, sehingga uang rakyat yang dikucurkan melalui APBD tahun 2019 itu tidak mubazir”, imbuhnya.

Adanya pengerjaan proyek dana APBD yang amburadul tersebut, membuktikan kinerja Dinas PUPR Kab Pesisir Barat yang kurang beres dan kewajiban Pimpinan Daerah memberi perhatian, jangan sampai merusak reputasi Kepala Daerah.

Sementara itu ketika dikonfirmasi via ponsel, Kabid Pengairan Dinas PUPR Kab Pesisir Barat Ade Kurniawan, Senin (23/9) berdalih robohnya tanggul bendungan tersebut merupakan fenomena alam, “Kita gak bisa apa-apa, itu fenomena alam”, ujarnya kendati tidak masuk akal.

Menurut Ade, pembangunan Way Mendati itu masih dalam tahap pengerjaan sejak teken kontrak 19 Juni 2019 lalu. Hingga bangunan roboh, progres pengerjaannya baru sekitar 40 persen.

“Memang dalam tahap pembangunan awal kita pakai konstruksi pondasi pancang biasa dan kedepannya kita akan pakai pondasi cakar ayam”, terang Ade Kurniawan menambahkan.

Bagaimana langkah langkah Dinas PUPR yang dipimpin Jalaluddin dalam menangani berbagai proyek lainnya, Tim Khusus Koran Berantas dan akan terus mengamati secara ceramat dan melaporkannya kepada publik.

(benk/red.1)