Banpres UMKM Secara Kolektif di Desa Karang Setra Pandeglang Raib Ditelan Oknum

811

berantasonline.com (Pandeglang Banten)

Nasib apes kembali menimpa warga penerima Banpres UMKM dengan secara kolektif, salah satunya di Desa Karang setra kecamatan keroncong kabupaten Pandeglang Banten.

Ibu Maemunah salah seorang warga karang setra yang mengajukan dana Banpres UMKM bersama warga lainnya yang dikolektif oleh staf desa, pada bulan Desember 2020 lalu, harus gigit jari lantaran Banpres yang diidam-idamkan raib ditelan oknum yang tidak bertanggungjawab.

Lama tak ada informasi pencairan, kemudian ibu Maemunah menanyakan ke pihak bank BRI pada bulan Januari 2021, di dapat keterangan dari pihak bank sudah cair pada tanggal 4 Desember 2020 dengan cara kolektif menggunakan ATM Simpedes bukan menggunakan ATM kartu tani kata pihak bank BRI, Tutur ibu Maemunah kepada berantasonline 22/1/21 di rumahnya.

Maemunah bingung lantaran yang didaftarkan ATM Kartu Tani kenapa bisa dicairkan dengan ATM Simpedes. “Kata pihak bank, diduga ATM di ganti oleh seseorang yang mengkolektif bantuan tersebut, ATM kartu tani bisa jadi di blokir diganti ATM Simpedes. Karena itu sudah dikolektif jadi percaya saja”, kata ibu Maemunah.

Wartawan berantasoline.com kemudian mengkonfirmasi Faisal selaku bendahara Desa karang setra di rumahnya 22/1/21 sekitar pukul 18,15 wib, terkait prosedur pengolektifan pencarian dana UMKM warga Desa karang setra. Ia berkilah tidak tahu dan tidak mengerti segala sesuatunya. “Tanyakan aja kepada pak lurah”, ujarnya.

Kemudian bersama faisal menuju ke rumah pak lurah desa karang setra pada malam itu juga, saat di konfirmasi, Lurah mahdar membenarkan bahwa pengajuan UMKM ibu Maemunah sudah cair buktinya jelas ada, “Saya tidak tahu siapa yang mencairkan, karena untuk semuanya satu desa pengajuan UMKM ada 102 orang tapi yang cair ada 71 orang, maka untuk ibu Maemunah tidak ada dalam catatan saya, Nanti hari Senin tanggal 25 Januari 2021 saya suruh staf ajak ibu Maemunah ke bank BRI untuk mengecek”, kata Lurah karang setra.

Selanjutnya hari Senin tanggal 25 Januari 2021, ibu Maemunah di ajak ke bank BRI alun alun pandeglang oleh 3 orang staf desa (Faisal, Neng dan ilah), “Sesampainya di bank BRI saya suruh nunggu di halaman bank, yang masuk faisal dan satpam bank gak lama kemudian Satpam bank keluar lalu menjelaskan ATM ketukar dengan kelopok tani di kumpulkan saja kelopok tani satu kecamatan atau satu kabupaten. Sedangkan bank BRI yang di tanya sama saya yang di pasar pandeglang bukan yang di alun alun”, jelas Maemunah.

Selanjutnya Rabu 27/1/21 ibu Maemunah di panggil oleh kepala desa bersama pak nanang ketua Gapoktan karang setra, lagi lagi pak kepala desa menyuruhnya mengumpulkan kelompok tani se desa, se kecamatan sampai se kabupaten.

Disisi lain ilah staf desa mengatakan di kampung pasir cau desa karang setra ada juga yang bernasib sama, “tapi diikhlaskan tidak protes”, ucapnya enteng.

Nanang membenarkan saya di suruh ngumpulkan ATM kelopok tani oleh kepala desa, saya tolak karena itu yang mencairkan bukan ATM kelopok tani,tapi ATM Simpedes,tegas nanang

Saya, kata ibu Maemunah, dituduh menjelekkan kepala desa kepada masyarakat, diancam mau di timpah pake asbak rokok, padahal saya tidak pernah bicara apapun. “Tapi saya di pesan oleh kepala desa Mahdar, kalau ada LSM dan wartawan bertanya bilang saja sudah beres, tapi jangan sebut sebut nama kepala desa”, ujar Maemunah menirukan pesan kepala desa karang setra.

Sementara itu, ditempat lain didapat keterangan dari nara sumber berantasonline.com, bahwa dalam pencairan UMKM secara kolektif terjadi pemotongan sebesar Rp 200 ribu per orang. “Tapi itu alasannya hasil kesepakatan bersama”, ujar sumber.

(RS)