Aksi Peduli SDIT Baitussalam Bogor Untuk Korban Gempa dan Tsunami Sulteng

107

berantasonline.com (KAB BOGOR) – Duka Palu adalah duka kita semua, tak hanya orang dewasa yang berlomba-lomba mengekpresikan kepeduliannya, anak-anak siswa/i SD pun turut menunjukkan empati untuk korban gempa dan tsunami Palu-Donggal.

Ini dibuktikan oleh Murid-murid SDIT Baitussalam Bogor selama satu pekan mengumpulkannya,kemudian dilakukan penyerahan bantuan kemanusiaan tersebut yang disalurkan melalui Direktur Dompet Du’afa Pendidikan sejumlah uang Rp.10.035.000,- diterima oleh Dimas Arjuna ( Tim Dompet Dhu’afa) dan Direktur Dompet Dhu’afa Pendidikan Ust Syafi’ie El-Bantanie di masjid Baitussalam AL-Mubaroq  pada hari Rabu kemarin,17/10/2018.

Acara penyerahan bantuan aksi peduli Palu-Donggala ini disaksikan oleh Ketua Yayasan Pesantren Baitussalam,dewan guru,para orang tua murid dan juga ratusan siswa-siswinya.

Diawali dari rasa empati untuk saudara-saudara kita disana, ditunjukkan oleh siswa-siswi SDIT Baitussalam Bogor dengan Inisiatif dari guru juga untuk melakukan penggalangan donasi bagi korban  Palu dan  Donggala disambut baik oleh siswa yang turut didukung oleh para orang tuanya sendiri.

Disampaikan oleh Kepala Sekolah SDIT Baitussalam Fatia Rahma S.Pd dalam sambutannya, apapun yang bisa kami berikan untuk saudara saudara kami  disana,bukti nyata bahwa kita semuanya adalah saudara sebangsa dan setanah air, kami berharap akan semakin banyak bantuan dalam bentuk apapun diseluruh masyarakat Indonesia guna meringankan beban penderitaan mereka disana,” ucapnya.

Kami berterima kasih kepada SDIT Baitussalam dan seluruh masyarakat yang terlibat dalam aksi peduli Palu Donggala ini. Donasi yang terkumpul dan kami terima sebesar Rp 10.035.000 akan disalurkan kepada korban Palu Donggala melalui Dompet Dhuafa.

Dikatakan Ustadz Syaf ,” Semoga donasi ini dapat membantu teman-teman kita di Palu agar mereka dapat menikmati sekolah dan lingkungan yang nyaman lagi seperti kalian,ujarnya.

Ketika proses serah terima donasi di depan para siswa-siswi, terlihat ikut sedih ketika Syaf menceritakan secara singkat bagaimana kondisi anak-anak di Palu yang terpaksa belajar di sekolah darurat.

(DG79)