Kepsek SMPN 1 Ciambar Jadi Tersangka Kasus Tewasnya Siswa Saat MPLS

1

berantasonline.com (Sukabumi)

Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Ciambar Kabupaten Sukabumi menjadi tersangka dalam kasus tewasnya seorang siswa berinisial MA (13) akibat tenggelam saat mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Penetapan tersangka itu setelah Kepolisian Resor Sukabumi melakukan gelar perkara.

“Dari hasil penyelidikan, pengumpulan keterangan dan barang bukti, kemudian pelaksanaan ekshumasi (autopsi) terhadap jenazah korban hingga gelar perkara, kami menemukan beberapa kejanggalan yang menyebabkan korban meninggal dunia akibat tenggelam di Sungai Cileuleuy pada Sabtu lalu 22 Juli 2023,” kata Kapolres Sukabumi, AKBP Maruly Pardede saat Konferensi Pers di Mapolres Palabuhanratu Sukabumi, Kamis (27/07/2023).

Maruly menjelaskan, K menjadi tersangka atas dasar Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 18 Tahun 2016 tentang pengenalan lingkungan sekolah pada siswa baru, khususnya di pasal 9 ayat 2. Pasal itu menjelaskan bahwa sekolah wajib menyertakan rincian kegiatan pengenalan anggota baru ekstrakurikuler dengan meminta izin secara tertulis kepada setiap orang tua murid sebagaimana dimaksud pada ayat 1.

Kemudian pada ayat 4, lanjut Maruly, apabila terdapat potensi resiko bagi siswa baru dalam pengenalan anggota baru pada kegiatan ekstrakurikuler sebagai mana dimaksud pada ayat 1, sekolah wajib membuat pemetaan dan penanganan resiko serta memberitahukan kepada orang tua wali untuk mendapatkan persetujuan.

“Ternyata dari hasil pemeriksaan saksi, mulai dari siswa, sekolah, orang tua siswa dan lainnya, K melanggar seluruh aturan dalam aturan tersebut atau telah melakukan kelalaian yang mengakibatkan seorang anak didiknya meninggal. Terlebih, terungkap saat kegiatan lintas alam tersebut, peserta MPLS diwajibkan untuk menyeberangi sungai dengan cara berenang, padahal kegiatan itu sangat berbahaya dan tentunya setiap pelajar harus didampingi oleh orang ahli,” ungkapnya.

Selanjutnya, selama kegiatan MPLS dan MOPK, tersangka K tidak memeriksa kondisi peserta di setiap pos. Dari situ, kuat dugaan korban terlepas dari pengawasan dan baru diketahui hilang tenggelam saat orang tua korban melaporkan anaknya tidak pulang.

“Ditemukan bukti-bukti baru pada kasus ini seperti setiap anak diperintahkan untuk berenang melintasi sungai dan keterangan yang kami dapat dari hasil pemeriksaan saksi kegiatan lintas alam ini masuk dalam agenda MPLS pada agenda MPOK,” tandasnya.

Hingga saat ini, penyidik masih melakukan pendalaman dan mengembangkan kasus tersebut. Tak menutup kemungkinan akan ada tersangka baru dalam pengembangan kasus. Atas kelalaiannya, K terancam menjalani pasal 359 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara.

(Alex/Ris)