15 Orang Diperiksa Polisi Terkait Meninggalnya Siswa SD, Pihak Sekolah Berjanji Kooperatif

0

berantasonline.com (Sukabumi)

Sebanyak 15 orang saksi diperiksa pihak Kepolisian terkait kasus meninggalnya siswa kelas 2 SD yang diduga usai dikroyok kakak kelasnya di wilayah Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi.

Pengawas Bina Kecamatan Sukaraja pada Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sukabumi, dan unsur pemerintah melakukan rapat terkait meninggalnya siswa kelas 2 SD, Senin (22/05/2023).

Pengawas Bina Kecamatan Sukaraja Kabupaten Sukabumi, Ahmad Yani mengatakan, kami bersama pihak sekolah sudah sepakat akan kooperatif memberikan keterangan yang dibutuhkan Kepolisian untuk mengungkap kasus tersebut.

“Untuk kepentingan pemeriksaan pihak Kepolisian, dua orang guru di sekolah ini sudah dimintai keterangan oleh Kepolisian,” tandasnya.

Lebih lanjut Ahmad mengungkapkan, Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi awal mula mengetahui kejadian tersebut, bermula dari laporan pihak sekolah. Kemudian ia memintai kejelasan dari informasi tersebut melalui WhatsApp Grup sekolah.

Awal mula, Pak Johan selaku guru kelas 2 kedatangan nenek korban pada Rabu (17/05) sekira pukul 11.00 WIB, ia menerima laporan bahwa korban tidak bisa masuk sekolah karena akan dirawat, kemudian ia lapor kepada Kepala Sekolah. Nenek korban menjelaskan bahwa korban tidak bisa masuk karena mengalami sakit yang disebabkan pukulan oleh siswa atau temannya di sekolah. Setelah itu, guru kelas korban langsung ke Rumah Sakit untuk melakukan pendampingan pada Rabu (17/05) sore.

“Jadi, pihak sekolah ini respect ketika ada laporan dari neneknya mau dibawa ke rumah sakit, malah pihak sekolah diwakili oleh guru kelas 2 atau wali kelasnya, langsung mendampingi. Intinya, kami dari pihak sekolah itu tidak mengabaikan atau tidak melalaikan. Tapi respect,” jelasnya.

Dikarenakan pihak sekolah tidak mengetahui ada kejadian tersebut, akhirnya memanggil pihak keluarga korban. Yang datang merupakan Kakek, Paman dan Nenek korban. Kemudian mereka menjelaskan bahwa, korban dipukuli oleh siswa berinisial AA di jam istirahat. Pihak korban minta pertanggungjawaban pihak sekolah untuk mengambil tindakan.

Ia mengaku prihatin melihat korban dengan kondisi sangat mengkhawatirkan yang dipasang alat-alat dan tidak bisa ditanya.

“Beberapa hari dirawat di Rumah Sakit dengan di dampingi guru kelasnya, pada Sabtu (20/05) pukul 08:00 WIB, saat kami sedang menghadiri lomba di Cisaat, lalu ada telepon bahwa korban yang dirawat sudah meninggal dunia,” ujarnya.

Atas kejadian tersebut, pihak sekolah menelusuri siswa yang berinisial AA sesuai laporan dari nenek korban, bahwa MHD ini sebelum dirawat di Rumah Sakit, telah dipukuli oleh siswa berinisial AA.

(Alex/Ris)