Kasus Penggelapan Perbankan Rp 6,5 Milyar Diterima Kejari Sitaro

1

Sitaro, BERANTAS – Kejaksaan Negeri Sitaro di Ondong Siau (15/03/2023) menerima tersangka dan barang bukti perkara tindak pidana dalam kasus Penggelapan Perbankan sesuai surat penyidik No. BP/31/XII//2022/Dit Reskrimsus Polda Sulut, tgl 06 Desember 2022 atas nama Novry Jefry Mamangkey.

Selanjutnya Kajari Sitaro menerbitkan Surat perintah penunjukan Penuntutan Umum untuk Penyelesaian Perkara Tindak Pidana Umum No: Print -94/P.1.20/ Eku.2/03/2023 Tanggal 15 Maret  2023.

Kepala Kejaksaan Negeri Sitaro Aditia Aelman  Ali SH, MH menjelaskan, penyerahan tersangka dan barang bukti perkara tindak Pidana Umum Kasus Penggelapan merupakan hasil penyidikan yang dilakukan Penyidik  Polda Sulawesi Utara kemudian diserahkan ke Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara.

Oleh Karena Perkara tersebut masuk dalam wilayah hukum Kejaksaaan Negeri Kepulauan Siau Tagulandang Biaro untuk nantinya akan dilimpahkan dan dilakukan penuntutan perkara pidana tersebut ke Pengadilan Negeri Tahuna untuk disidangkan.

Bahwa Perkara Tindak Pidana dalam Kasus Penggelapan Perbankan tersebut terjadi pada Tahun 2020 s/d 2021, tersangka Novry Jefry Mamangkey, SP sekitar bulan April 2020 sebagai Kepala cabang Bank Mandiri  KCP  MMU Siau yang memiliki kewenangan untuk mengelola Kluis/Brankas (Tempat Penyimpanan Uang), maka tersangka dengan sengaja menggunakan kesempatan tersebut untuk mengambil uang didalam Kluis/Brankas dengan cara memutar kode kombinasi  kluis dan membuka kluis dengan kunci tombak lalu mengambil uang secara bertahap dan uang yang diambil tersangka dikumpulkan di FCTA (Filling Cabinet Tahan Api) yang kuncinya hanya tersangka yang pegang. Selanjutnya tersangka melakukan penutupan selisih terhadap uang Kas yang telah diambil dari uang nasabah yang sebelumnya tersangka tawarkan untuk mengikuti program “Nabung Cerdas”.

Bahwa Program ” NabungCerdas” tersebut merupakan  program Inisiatif tersangka sendiri  (program Fiktif) yang tidak tercatat didalam system perbankan dengan tujuan agar setiap pemeriksaan saldo Kas setiap harinya oleh Teller dan Kepala Cabang antara  jumlah Fisik uang Kas dengan System jumlahnya tetap sama (Klop) sehingga dapat menutupi pengambilan uang tersebut oleh tersangka.

Bahwa pengambilan uang dilakukan tersangka secara terus menerus sampai dengan  bulan Desember 2021. Akibat dari perbuatan tersangka, Pihak PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mengalami kerugian sebesar Rp 6.500.000.000 (Enam Milyar Lima Ratus Juta Rupiah).

Bahwa perbuatan tersangka tersebut  melanggar  pasal 49 ayat (1) huruf a atau huruf b atau huruf c Undang Undang RI  No. 10 Tahun 1998 tentang  perubahan atas Undang Undang  RI No 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.

(H. Tampubolon)