Ketua KPAI: Pemerkosa 12 Santriwati Harus Dihukum Berat

Lintas Daerah

Jakarta, BERANTAS

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto berharap, Herry Wirawan, berharap pelaku pemerkosaan 12 santriwati di Cibiru Bandung dihukum yang seberat-beratnya.

“Kami berharap proses hukum seberat-beratnya bagi pelaku. Tak ada toleransi bagi pelaku kekerasan seksual,” kata Susanto kepada wartawan, Jumat (10/12/2021).

“Guru merupakan figur pelindung bukan justru melakukan tindakan yang tak pantas. Maka oknum guru siapapun orangnya yang menjadi pelaku kekerasan seksual sudah sepantasnya diberikan pemberatan agar kasus-kasus demikian tak berulang di kemudian hari,” tegas Susanto

Susanto juga berpesan kepada Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag), agar melakukan pengawasan terhadap
pesantren secara berkala.

“Kemenag di tingkat wilayah dan kabupaten/kota agar terus melakukan monitoring dan pembinaan secara berkala untuk meningkatkan sistem layanan satuan pendidikan agama berbasis asrama yang ramah anak. Untuk mewujudkan satuan pendidikan agama berbasis asrama yang ramah anak dan berorientasi tumbuh kembang yang optimal,” ujarnya.

Terkuak sebelumnya Pimpinan Pondok Pesantren Tahfidz Madani di Cibiru, Bandung, Heri Wirawan (HW)
36 tahun menjadi sorotan publik usai memperkosa 12 santri hingga hamil.

Hingga proses persidangan kasus tersebut, terungkap 9 bayi lahir dari aksi yang dilakukan HW. Mirisnya, anak yang lahir dari hasil pemerkosaan itu dijadikan alat untuk meminta sumbangan.

“Fakta persidangan mengungkap bahwa
anak-anak yang di lahirkan para korban diakui sebagai anak yatim piatu dan dijadikan alat oleh pelaku untuk meminta dana kepada sejumlah pihak,” ujar Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) RI Livia Istania DF Iskandar dalam keterangannya, Kamis (9/12/2021).

“Ancaman pidananya 15 tahun,” ujar Plt Asisten Pidana Umum Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Barat Riyono.

(Red.10-Hudori)